Selasa, 15 Oktober 2013

ANALISIS PRIBADI



PERAN APA SAJA YANG SUDAH DILAKUKAN KELUARGA SAYA UNTUK DAPAT MENGEMBANGKAN KREATIVITAS SAYA? DAN APAKAH PERAN SEKOLAH, dan MASYARAKAT DAPAT MENGEMBANGKAN KREATIVITAS SAYA?


Pertanyaan diatas akan saya coba jelaskan melalui teori-teori kreativitas dan mencoba menganalisis diri saya sendiri tentang apakah saya memiliki jiwa kreativitas dan orang-orang yang berperan dalam pengembangan kreativitas saya.

A.  PERANAN KELUARGA DALAM MENGEMBANGKAN BAKAT DAN KREATIVITAS ANAK
1.      Teori Persimpangan Kreativitas (Creativity Intersection) 
Untuk dapat mewujudkan kreativitas anak, anak perlu dilatih dengan keterampilan tertentu sesuai minat pribadinya sehingga dapat mengembangkan bakat dan talenta yang dimilikinya. Keberhasilan kreatif adalah persimpangan (intersection) antara keterampilan anak dalam bidang tertentu (domain skills), keterampilan berpikir dan bekerja kreatif. Contohnya : pada waktu kecil, saat duduk disekolah dasar, saya dilatih untuk dapat membaca seperti mengeja kata demi kata, menghitung seperti menghitung perhitungan yang mudah, dan menulis yaitu mengenali pertama sekali huruf-huruf, serta menghafal masing-masing hal-hal yang mudah diingat. Ibu saya mengajarkannya dengan cara-cara berbeda setiap kali belajar hal-hal tersebut.
2.      Karakteristik Keluarga yang kreatif
Penelitian dacey, kesimpulan yang dapat ditarik di dalam keluarga saya ialah : 
a.       Faktor Genetic versus Lingkungan
Peranan faktor lingkungan seperti cara asuhan orang tua saya dan iklim dan keluarga sangat penting dalam mengembangkan kreativitas saya. 
b.      Aturan Perilaku
Di dalam keluarga, orang tua saya tidak terlalu menetapkan berbagai aturan dalam cara asuhan. Tetapi mereka meneladankan nilai-nilai yang jelas dalam setiap perilaku yang hendak dilakukan. 
c.       Humor
Dalam keluarga saya, sering terjadi humoris yaitu bercanda ria baik itu kepada orang tua maupun kepada saudara masing-masing. Berlaku juga memberikan nama julukan satu sama lain agar terjadi kekompakan dalam satu keluarga tersebut. 
d.      Bekerja keras 
Dalam mengembangkan kreativitas, kreativitas tidak begitu saja didapat. Kreativitas hanya sedikit merupakan dari hasil ilham dan jauh lebih banyak didapat dari hasil kerja keras diri sendiri seperti berlaku juga dalam berbagai macam pekerjaan termasuk pekerjaan rumah dan tugas dalam keluarga.
e.       Dominasi Lateral. 
Beberapa teoretikus berpendapat bahwa kekidalan lebih banyak ditemukan pada pribadi-pribadi kreatif, karena merupakan petunjuk bahwa lebih dikuasai oleh belahan otak kanan. Pada waktu kecil, dalam melakukan segala hal saya selalu kidal. Tetapi setelah umur-umur 10 tahun, saya diajari untuk mengurangi kekidalan saya.
3.      Dampak Sikap Orang Tua terhadap Kreativitas Anak
a.       Beberapa Faktor Penentu 
Menurut Amabile ialah :
·        Kebebasan 
Dalam hal ini orang tua saya memberikan kepercayaan penuh kepada saya. Tidak otoriter, tidak selalu mengawasi anaknya, dan mereka tidak membatasi kegiatan saya.
·        Respek 
Orang tua saya sangat respek terhadap saya, menghormati segala tindakan dan perilaku yang saya lakukan, percaya sepenuthnya akan kemampuan yang saya miliki.
·       Prestasi, Bukan Angka 
Orang tua saya menghargai setiap prestasi yang saya miliki. Mendorong setiap usaha-usaha yang saya lakukan dan mencapainya dengan cara imajinasi dan kejujuran. Hal itu yang lebih ditekankan.
·      Menghargai kreativitas 
Anak yang kreatif memperoleh banyak dorongan dari orang tua untuk melakukan hal-hal yang kreatif.
b.   Orang  Tua Sebagai Model
   Orang tua merupakan model yang sangat penting untuk kreatif yang memusatkan perhatian terhadap bidang minatnya, yang menunjukkan keahlian dan disiplin diri dalam bekerja, semangat, dan motivasi intrinsik. Orang tua dapat membantu anak menemukan minat-minat mereka yang paling mendalam dengan mendorong anak melakukan kegiatan yang beragam, menunjukkan kesempatan dan kemungkinan yang ada. Minat anak dapat berkembang dan dapat berubah dengan berselangnya waktu. Orang tua hendaknya dapat menghargai minat intrinsik anak, dan menunjukkan perhatian dengan melibatkan diri secara intelektual dengan baik, mendiskusikan  masalah, mempertanyakan, menjajaki, dan mengkaji.
c.   Sikap Orang Tua yang Menunjang dan yang Tidak Menunjang Pengembangan Kreatif Anak
Sikap orang tua yang memupuk kreativitas anak yaitu: 
·        Menghargai pendapat anak dan mendorongnya untuk mengungkapkannya
·        Memberi waktu kepada anak untuk berpikir, merenung, dan berkhayal 
·        Membiarkan anak mengambil keputusan sendiri 
·        Menunjang dan mendorong kegiatan anak
·        Memberi pujian yang sungguh-sungguh kepada anak 
Sikap orang tua yang tidak menunjang pengembangan kreativitas anak yaitu:
·        Orang tua ketat mengawasi kegiatan anak 
·        Orang tua memberi saran-saran spesifik tentang penyelesaian tugas
·        Orang tua tidak sabar dengan anak 
·        Orang tua dan anak adu kekuasaan
·        Orang tua kritis terhadap anak dan menolak gagasan anak

B.     PERANAN SEKOLAH DALAM MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK
1.      Persiapan Guru Anak Berbakat 
Seperti Program Bergelar
a.       Mengetahui tentang sifat dan kebutuhan anak berbakat 
b.      Mengetahui tentang kebutuhan afektif dan kognitif dari anak berbakat
c.       Mempunyai kemampuan untuk mengembangkan pemecahan masalah secara kreatif 
2.      Karakteristik mentor
a.       Mempunyai keterampilan, minat, atau kegiatan khusus yang menarik minat siswa 
b.      Bersifat fleksibel dalam membantu kegiatan siswa
c.       Model peran bagi siswa 
3.      Hubungan mentor dengan siswa 
Menurut Boston (1987), menyimpulkan :
a.       Program mentor dalam pendidikan anak berbakat haruslah berakar dalam belajar eksperimental 
b.      Baik mentor maupun siswa berbakat melibatkan diri dalam komitmen dwi rangkap (Dual commitment)
c.    Program mentor untuk siswa berbakat haruslah berakir terbuka dalam arti member kemungkinan untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan pemecahan masalah 
d.      Instruksi dan evaluasi haruslah berdasarkan kompetensi
4.      Membangkitkan Kreativitas di Sekolah 
a.       Sikap guru
Cara yang paling baik bagi guru untuk mengembangkan kreativitas siswa adalah dengan mendorong motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik  akan tumbuh, jika guru memungkinkan anak untuk bisa diberi otonomi sampai batas tertentu di kelas. 
b.      Falsafah Mengajar
·        Belajar adalah sangat penting dan sangat menyenangkan 
·        Anak patut dihargai dan disayangi sebagai pribadi yang unik
·        Anak perlu merasa nyaman dan dirangsang di dalam kelas 
·        Anak hendaknya menjadi pelajar yang aktif
·        Kerja sama selalu lebih dari pada kompetisi
5.      Strategi Mengajar
a.      Penilaian 
·        Memberikan umpan balik yang brarti daripada evaluasi yang abstrak dan tidak jelas
·        Melibatkan siswa dalam menilai pekerjaan mereka sendiri dan belajar dari kesalahan mereka 
·    Penekanannya hendaknya terhadap “Apa yang telah kau pelajari?” dan bukan pada “Bagaimana kau melakukannya?”
b.     Hadiah 
Anak senang menerima hadiah dan kadang-kadang melakukan segala sesuatu untuk memperolehnya, dan itu masalahnya. Hadiah terbaik untuk pekerjaan yang baik adalah yang tidak berupa materi (intangible), seperti : senyuman atau anggukan, kata penghargaan, kesempatan untuk menampilkan dan mempersentasikan pekerjaan sendiri dan pekerjaan tambahan.
c.     Pilihan 
Memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih karena anak memerlukan arah tujuan.

C.     PERANAN MASYARAKAT DALAM MENGEMBANGKAN KREATIVITAS
1.      Kebudayaan yang “Creativogenic” 
Kebudayaan yang menunjang, memupuk, dan memungkinkan perkembangan kreativitas
Arieti mengemukakan Sembilan faktor sosiokultural yang “Creativogenic” : 
a.       Tersedianya sarana kebudayaan
b.      Kebudayaan “Creativogenic” adalah keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan 
c.       Penekanan pada “becoming” (menjadi tumbuh), tidak hanya pada “being” (sekadar berada)
d.  Memberikan kesempatan bebas terhadap media kebudayaan bagi semua warga Negara, tanpa diskriminasi 
e.     Timbulnya kebebasan atau paling tidak hanya ada diskriminasi yang ringan setelah pengalaman tekanan dan tindaasan yang keras, merupakan insentif atau tantangan terhadap pertumbuhan kreativitas.
f.        Keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan yang berbeda, bahkan yang kontras 
g.       Toleransi dan minat terhadap pandangan yang divergen
h.       Adanya interaksi antara pribadi-pribadi yang berarti 
i.         Adanya insentif, penghargaan atau hadiah
2.      Kebudayaan Indonesia dan Pengembangan Kreativitas 
a.  Menurut Toeti Noerhadi (1983) dalam bahasannya tentang kreativitas dan evolusi budaya, sejarah manusia dapat dikembalikan pada interaksi antara dua gerak psikologi yaitu yang bersifat pengendalian konservatif (terkait adat-sitiadat serta tradisi yang menjamin kontinuitas kebudayaan) dan suatu daya kreatif yang mempertanyakan pengalaman masa lalu dan menghadapi tantangan pembaruan. 
b.    Menurut Soemardjan (1981) menekankan bahwa “orang yang benar-benar kreatif memiliki sistem nilai dan sistem apresiasi hidup sendiri yang mungkin tidak sama dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat ramai. Kreativitas merupakan sifat pribadi seorang individu dan bukan merupakan sifat sosial yang dihayati oleh masyarakat.”
c.     Harsya Bachtiar memaparkan kebutuhan sosial akan kreativitas yang menghendaki suatu bentuk, struktur, pola, atau sistem yang baru, karena apa yang telah ada dianggap tidak lagi memadai atau tidak bisa memenuhi kebutuhan. 
d.   Mochtar Lubis (1983) menegaskan bahwa salah satu persyaratan utama bagi berkembangnya kreativitas suatu bangsa adalah adanya kebebasan. Kebebasan untuk berpikir, menyatakan pikiran, mencipta, yang dapat kita ringkaskan pada moyangnya segala rupa kebebasan yang menjadi hak dasar manusia, yakni adanya kebebasan melakukan pilihan (freedom of choice).
e. Takdir Alisjahbana (1983) menyimpulkan, bahwa “kebudayaan Indonesia yang baru adalah suatu penjelmaan dari kebudayaan dunia yang sedang tumbuh, yang lebih nyata menjelmakan kesatuan budi umat manusia di bumi yang satu, yang menjadi kecil oleh kemajuan ilmu dan teknologi, yang melahirkan alat-alat komunikasi dan lalu lintas yang cepat, sehingga semua manusia menjadi tetangga yang senasib dan seharapan. 
3.     Memanfaatkan Sumber dalam Masyarakat
a.   Menyediakan kombi atau bus yang dapat menjadi laboratorium mobil yang dapat membawa siswa ke lapangan 
b.     Menghubungi perhimpunan orang-orang yang sudah pensiun atau lanjut usia
c.      Menghubungi orang tua yang dapat mengajar dalam bidang minat mereka 
d.     Memanfaatkan fasilitas perusahaan yang letaknya dekat dengan sekolah 
e.   Menggunakan tape recorder yang memungkinkan siswa menjajaki daerah tertentu untuk melakukan survei atau mengkaji topic tertentu 
f.        Mengunjungi perusahaan telepon
g.       Mengunjungi stasiun televisi

KESIMPULAN
kesimpulan tentang bahasan ini adalah dalam ketiga peranan tersebut yang paling berpengaruh mengembangkan kreativitas yang ada pada diri saya adalah peranan keluarga saya. Hal diatas sudah menjelaskan peran-peran apa saja yang sudah dilakukan keluarga saya untuk dapat mengembangkan kreativitas saya. Kreativitas anak terbentuk melalui hubungan keluarga  yang terjalin dengan baik didalamnya baik itu seperti bersikap, berperilaku dan saling mendorong satu sama lain untuk dapat sukses bersama. Sedangkan dalam lingkungan sekolah dan masyarakat kurang mempengaruhi dalam mengembangkan kreativitas saya. Mereka hanya mengajarkan hal-hal umum saja seperti memberikan aturan-aturan dalam peningkatan kreativitas, dan seperti harus belajar dengan baik tidak seperti lingkungan keluarga yang mengajarkan mulai dari hal-hal kecil misalnya “untuk dapat dihargai orang lain terlebih dahulu harus mampu menghargai diri sendiri”. Jadi, Lingkungan sekolah dan masyarakat tersebut hanya wadah tempat kita mensalurkan apa yang diajarkan di lingkungan keluarga yaitu berbagi pengalaman dengan orang-orang selain yang berada dilingkungan keluarga .









LINGKUNGAN YANG MERANGSANG PERKEMBANGAN BAKAT DAN KREATIVITAS 2


BAB V : PERANAN SEKOLAH DALAM MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK



A.     Karakteristik Guru Anak Berbakat 
      Guru menentukan tujuan dan sasaran belajar, membantu dalam pembentukan nilai pada anak (nilai hidup, nilai moral, nilai sosial), memilih pengalaman belajar, menentukan metode atau strategi mengajar, dan yang paling penting menjadi model perilaku bagi siswa. Walaupun begitu, tidak semua guru dapat mengajar siswa berbakat. Mandel dan Fiscus (1987) melaporkan hasil penelitian bahwa siswa berbakat dapat bereaksi dengan kemarahan, kebencian, atau kesebalan jika guru menekan mereka.
     Daftar cirri guru anak berbakat yang dihimpun oleh Davis (1987) menyebutkan cirri-ciri sebagai berikut : sikap demokratis, ramah dan member perhatian perorangan, sabar, minat luas, penampilan yang menyenangkan, adil, tidak memihak, rasa humor, perilaku konsisten, memberi perhatian terhadap masalah anak, kelenturan (fleksibilitas), menggunakan penghargaan dan pujian, dan kemahiran yang luar biasa dalam mengajar subjek tertentu.
   Maker (1982) membagi karakteristik guru anak berbakat menjadi tiga kelompok yaitu :
  1.  Karakteristik filosofis perlu dipertimbangkan dalam seleksi guru anak berbakat. Sebagai contoh, seorang kepala sekolah mengusulkan rencana membuat kelas khusus untuk anak berbakat dalam matematika dan bahasa, yang meliputi baik pengayaan (enrichment) maupun percepatan (akselerasi).
       Strom (1983) mengemukakan konflik filosofis lain dapat dialami guru dengan anak berbakat. Guru cenderung berpikir bahwa anak berbakat dapat berhasil dari dirinya sendiri, sehingga tidak perlu diperhatikan. Kadang-kadang guru cenderung berpikir juga bahwa selama anak berbakat mencapai nilai tertinggi dan tidak menimbulkan masalah, tidak perlu mempertimbangkan ketidakpuasaan dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan mereka.
   Menurut Wellborn (1987) guru dapat mengalami kesulitan filosofis dengan upaya pengembangan kreativitas di dalam kelas. Siswa yang berbakat kreatif melaporkan bahwa mereka di dalam kelas dimarahi, dicemoohkan, dan tidak memperoleh tantangan dalam belajar.
2.  Karakteristik profesional dari guru dapat dikembangkan melalui pelatihan dalam jabatan (in-service training) seperti kemampuan untuk mempergunakan keterampilan dinamika kelompok, teknik, dan strategi yang maju (advanced) dalam mata ajaran tertentu, memberikan pelatihan inquiry, dan memahami ilmu computer.
     Plowman (1987) membedakan sepuluh kelompok karakteristik professional guru anak berbakat, yaitu :
a.       Assessment anak berbakat
b.      Mengetahui tentang sifat dan kebutuhan anak berbakat
c.       Menggunakan data assessment dalam merencanakan program individual untuk anak berbakat
d.      Mengetahui tentang model kurikulum yang penting untuk pendidikan anak berbakat
e.       Mampu dalam menggunakan dinamika kelompok
f.        Mengetahui tentang berbagai program untuk anak berbakat, minat, dan komitmen terhadap pembelajaran anak berbakat
g.       Mengetahui tentang aturan dan hukum sehubungan dengan pendidikan anak berbakat
h.       Mengetahui dan mampu untuk membimbing anak berbakat dan orang tua mereka
i.         Mengetahui tentang kecenderungan dan isu dewasa ini dalam pendidikan anak berbakat
3.    Karakteristik pribadi guru anak berbakat meliputi motivasi, kepercayaan diri, rasa humor, kesabaran, minat luas, dan kelenturan (fleksibilitas).
    Lindsey (1987) menyimpulkan karakteristik pribadi dari guru yang berhasil bekerja dengan anak berbakat, mencakup memahami dan menerima diri sendiri, mempunyai kekuatan ego, kepekaan terhadap orang lain, minat intelektual diatas rata-rata, serta bertanggung jawab terhadap perilaku diri sendiri dan akibatnya. Karakteristik pribadi lainnya ialah empati, tenggang rasa, orisinalitas, antusiasme, dan aktualisasi diri.

 
B.  Persiapan Guru Anak Berbakat
1.      Program Bergelar
Kebanyakan program guru anak berbakat mempersyaratkan kompetensi, sebagai berikut : 
a.       Mengetahui tentang sifat dan kebutuhan anak berbakat
b.      Mempunyai keterampilan dalam mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi 
c.       Mengetahui tentang kebutuhan afektif dan kognitif dari anak berbakat
d.      Mempunyai kemampuan untuk melakukan penelitiane.       Mempunyai kemampuan untuk membimbing dan member konseling kepada anak berbakat dan orang tua mereka
2.      Pelatihan dalam Jabatan
Pelatihan dalam jabatan bisa kurang efektif jika dilaksanakan oleh pakar-pakar dari luar dalam bentuk lokakarya, seminar, atau proyek jangka pendek, jika tidak ada kesempatan atau waktu untuk tindak lanjut. Untuk mengatasi masalah ini, Gallagher (1983) mengajukan rencana yang mencakup tiga butir. 
a.       Pengukuran atau penilaian kebutuhan
b.      Kontrak atau persetujuan formal sehubungan dengan waktu dan cara pemberian pelajaran 
c.       Bank narasumber yang menghimpun semua jenis informasi tentang personalia dan sumber yang tersedia.
Program pelatihan guru anak berbakat yang biasanya diberikan, termasuk di Indonesia, secara garis besar meliputi : 
a.       Karakteristik dan identifikasi anak berbakat
b.      Memahami proses kognitif, afektif, psikomotor, dan proses pemikiran tingkat tinggi 
c.       Strategi mengajar dan lingkungan belajar yang sesuai dengan gaya dan minat anak berbakat
d.      Organisasi penyelenggaraan program 
e.       Evaluasi program

C.     Siapa Saja yang Dapat Menjadi Guru Anak Berbakat?
1.      Mentor pada Program Anak Berbakat 
a.       Peranan Mentor
            Mentor Pribadi 
Yang dapat menjadi mentor pribadi bisa seorang guru yang meningkatkan keterampilan dan perkembangan intelektual siswa; bisa seorang sponsor yang menggunakan pengaruhnya untuk membantu kemajuan anak. 
           Mentor sebagai narasumber
Program sekolah dapat menunjuk mentor untuk melengkapi pendidikan anak berbakat. Mentor ini biasanya sukarelawan dari masyarakat yang mengundang anak berbakat untuk mengunjungi tempat kerja mereka.
b.       KarakteristikKarakteristik yang penting dari mentor adalah sebagai berikut :  
Karakteristik yang penting dari mentor adalah sebagai berikut : 
·        Mempunyai keterampilan, minat, atau kegiatan khusus yang menarik minat siswa
·        Mampu membina siswa ke pengalaman pribadi yang bermakna 
·        Bersifat fleksibel dalam membantu kegiatan siswa
·        Merupakan model peran bagi siswa 
·        Menunjukkan minat terhadap siswa sebagai pelajar dan sebagai individu
c.     Hubungan mentor atau siswa 
Boston (1987) menganalisa hubungan antara mentor dan siswa berbakat, dan menyimpulkan:
·        Program mentor dalam pendidikan anak berbakat haruslah berakar dalam belajar eksperimental 
·        Baik mentor maupun siswa berbakat melibatkan diri dalam komitmen dwi rangkap (dual commitment)
·        Program mentor untuk siswa berbakat haruslah berakhir terbuka dalam arti memberi kemungkinan untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan pemecahan masalah 
·        Instruksi dan evaluasi haruslah berdasarkan kompetensi
2.      Orang tua
Delp dan Martinson (1989) memberi saran bagaimana sekolah dapat melibatkan orang tua berbakat, antara lain :
a.       Orang tua memberi informasi mengenai anaknya untuk membantu menentukan minat, kemampuan, kebutuhan, dan perkembangan anak berbakat
b.      Orang tua membantu guru dalam menyelenggarakan proyek individual, program mentor, kelompok minat khusus, dan karya wisata. 
c.       Orang tua berperan serta dalam panitia penasihat untuk masalah anak berbakat.
3.      Psikolog
 Psikolog dapat membantu dalam mengembangkan kesempatan pelatihan intensif untuk guru anak berbakat, dengan membantu guru lebih memahami sifat dan kebutuhan anak berbakat, mengembangkan metode yang mendorong pertumbuhan kreativitas harga diri, dan rasa ingin tahu (kemelitan) 
4.      Konselor
Konselor dapat membantu siswa berbakat untuk belajar lebih memahami diri sendiri dan untuk mengambil keputusan yang bijak, baik dalam menentukan mata ajaran pilihan maupun dalam bidang pilihan karier.

D.     Membangkitkan Kreativitas di Sekolah
1.    Sikap Guru
Cara yang paling baik bagi guru untuk mengembangkan kreativitas siswa, adalah dengan mendorong motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik akan tumbuh, jika guru memungkinkan anak untuk bisa diberi otonomi sampai batas tertentu di kelas. Beberapa peneliti menugaskan anak membaca teks ilmu pengetahuan sosial dengan tiga cara instruksi yang berbeda : a) tidak diarahkan (non-directed), b) tidak diawasi tetapi diarahkan (non-controlling but directed), dan c) diawasi plus diarahkan (controlling and directed).
2.      Falsafah Mengajar
Falsafah mengajar yang mendorong kreativitas anak secara keseluruhan, adalah sebagai berikut: 
a.       Belajar adalah sangat penting dan sangat menyenangkan
b.      Anak patut dihargai dan disayangi sebagai pribadi yang unik 
c.       Anak hendaknya menjadi pelajar yang aktif
d.      Anak perlu merasa nyaman dan dirangsang didalam kelas. Hendaknya tidak ada tekanan dan ketegangan 
e.       Anak harus mempunyai rasa memiliki dan kebanggaan di dalam kelas
f.        Kerja sama selalu lebih daripada kompetisi 
g.       Pengalaman belajar hendaknya dekat dengan pengalaman dari dunia nyata

E.     Strategi Mengajar
Dalam kegiatan mengajar sehari-hari dapat digunakan sejumlah strategi khusus yang dapat meningkatkan kreativitas. 
1.      Penilaian
      Penilaian guru terhadap pekerjaan murid menurut Amabile (1989) mungkin merupakan pembunuh kreativitas paling besar. Apa yang dapat dilakukan guru? 
a.       Memberikan umpan balik yang berarti daripada evaluasi yang abstrak dan tidak jelas.
b.      Melibatkan siswa dalam menilai pekerjaan mereka sendiri dan belajar dari kesalahan mereka 
c.       Penekanannya hendaknya terhadap “Apa yang telah kau pelajari?” dan bukan pada “Bagaimana kau melakukannya?”
      Dalam kelas yang menunjang kreativitas, guru menilai pengetahuan dan kemajuan siswa melalui interaksi yang terus menerus dengan siswa. Jadi sistem ini membuat evaluasi lebih bersifat memberi informasi daripada mengawasi.
2.      Hadiah 
Hadiah yang terbaik untuk pekerjaan yang baik adalah yang tidak berupa materi (intangible), seperti : senyuman atau anggukan, kata penghargaan, kesempatan untuk menampilkan dan mempersentasikan pekerjaan sendiri, dan pekerjaan tambahan.
3.      Pilihan
Sedapat mungkin, berilah kesempatan kepada anak untuk memilih. Misalnya, boleh memilih topik karangannya sendiri. Dalam pelajaran sains anak dapat memilih eksperimen mana yang akan dilakukan. Kreativitas tidak akan berkembang jika anak hanya dapat melakukan sesuatu dengan satu cara. Anak memerlukan arah tujuan. Mereka memerlukan batasan dan garis besar dalam mengerjakan suatu tugas. Tetapi dalam batasan-batasan ini, hendaknya mereka dimungkinkan untuk membuat pilihan.